Thursday, June 13, 2013

The Unnamed

You are miraculously agonizing
in such a way that words cannot describe
Well, the heavy old earth did mention
that such creature have been made
Into an unnamed object called love

Is that possible to be a well-being
in such manner that the damned thing exists?
Or is it important to be what you called as perfection?
No!
Hopefully, it does not matter

Wednesday, March 13, 2013

#SIKAP

To the point
intinya adalah, jika memang nanti kamu itu jodoh yang Allah berikan untukku, dengan siapapun saat ini kamu sedang dekat, pastinya tetap akan berujung padaku.
Tapi jika memang kamu itu bukan yang ditakdirkan untukku, pasti akan ada jodoh yang lebih baik darimu, ya paling tidak setara denganmu, yang akan ditakdirkan untukku.
Saat ini, aku hanya bisa bertahan dengan apa yang ada, menunggu jika memang kamu akhirnya akan hinggap di sini bersamaku atau menunggu orang lain untuk menggantikanmu.
Dan dengan siapapun kamu nanti akan berakhir, entah itu denganku, dengan dia yang saat ini dekat denganmu, ataupun dengan orang lain, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.
Yang pasti hanya satu hal, kamu sudah tahu bahwa ada orang lain selain dia yang menyanyangimu dengan tulus di sini.
Terimakasih untuk semuanya.
Untuk waktu-waktu yang menurutku indah yang sudah kita lewati bersama.
Untuk cerita-cerita yang kau bagikan.
Untuk ide-ide yang kau sumbangkan.
Untuk pelajaran-pelajaran yang kau ajarkan.
Untuk senyum-senyum yang ada di bibirku karena kaulah alasanku tersenyum.
Sekali lagi, terimakasih.
Aku bahagia bisa mengenalmu.
:)

Wednesday, March 6, 2013

Is it okay not to be okay?

I don't know. I have tried my best to make everything goes smooth as what I want. Well, I want myself to be okay. Not to be hurt, not to feel the feeling anymore, and so on, and so on. But what I have now? None of what I have been wishing!

You told me that it was okay to feel that way, at that time when I told you what happened within me. You also told me that it was better that way so that what I had would be over soon. But you know what? After that moment we talked, everything got me insane! I wish I could be over you, but up til now, your name, your face, your gesture, your laugh, your smile, your dimmed expression, your talk, your madness are still flying around my head.


I know I'm not in the right place to talk about this. But don't you know that I'm going mad? Don't you know that I'm going mental? 

If the talks about us were true.....

Monday, February 11, 2013

Apakah Anti Mainstream Eksis?

Beberapa saat yang lalu, kata-kata anti-mainstream jadi kata yang cukup mainstream, karena banyak banget orang yang menggunakan kata 'anti-mainstream' ini. Nah, sekarang, pertanyaan gue adalah, apakah si 'anti-mainstream' ini beneran eksis?

Well, sejauh ini gue emang ga begitu suka dengan hal-hal yang mainstream. Gue cenderung lebih memilih hal-hal yang ga disukai banyak orang. Gue lebih suka dengan dunia gue sendiri ketimbang dunia orang-orang yang hanya itu-itu melulu. Tapi ternyata itu hanya ada di otak gue, di kehidupan nyata gue, gue masih aja larut dalam dunia mainstream alias dunia yang ga beda jauh dengan dunia orang-orang pada umumnya.

Satu contoh konkrit yang membuktikan bahwa dunia gue ternyata masih mainstream-mainstream aja adalah karena saat ini gue masih aja jadi anak kuliahan tingkat akhir yang kerjaannya galauin skripsi yang ga kelar-kelar karena ga digarap-garap. Banyak orang-orang anti-mainstream seumuran gue yang sedang enggak berkutat dengan dunia yang sedang gue geluti ini. Tapi gue, tetep ikutin arus seperti ini.

Contoh lain adalah tentang cowok. Oke, emang kalo gue lagi ngomong entah kenapa selalu ujung-ujungnya berakhir di satu kata itu. Jadi pada dasarnya gue kepingin untuk berpikiran dan bertindak anti-mainstream, tapi ternyata yang ada adalah kebalikannya. Karena apa, setiap kali gue suka sama cowok, cowok-cowok yang gue suka ini adalah cowok-cowok mainstream. Maksudnya? Well, gue pernah ngobrol dengan salah seorang temen gue, dan ternyata tipikal cowok yang kita suka ini hampir-hampir mirip lah. Dan parahnya adalah, setiap cowok yang gue suka, pasti aja banyak yang suka. Kurang mainstream apa coba?

Hal lain yang membuat gue curiga kalo anti-mainstream itu gak eksis adalah karena ketika gue dan dua orang temen gue lagi garap suatu proyek dan kita membuat proyek itu menjadi sesuatu yang anti-mainstream banyak pertanyaan-pertanyaan terlontar akan hal itu. Banyak yang masih meragukan akan ke-anti-mainstream-an hal yang kita kerjakan ini.

Jadi intinya, apakah ANTI-MAINSTREAM itu cuma ada di otak gue tapi gak ada di kehidupan nyata??

Sunday, February 3, 2013

Secarik Kertas

Dear you,

Before I start everything, let me tell you something. I'm not that kind of person who can easily say things in my mind. I always get tongue-tied whenever it's the time for me to speak, so through this piece of paper, I want you to hear what I've been thinking and feeling.

I've finally decided to tell you everything. Every little thing that I've been hiding for quite some time. It may not be the right time, because if I wait for the right time, then it'll never happen. But one thing, I want you to know that I want nothing different between us after this. It may be awkward at first, but please please please, don't change everything because I don't wanna ruin things.

What kills me the most is that this guilty feeling for you. I feel that I'm the one who should be punished of the rumors spread about us. You may feel burdened and uncomfortable, and I do feel so bad about it. Although I believe that we both know that there's nothing between us, but people won't think the same. They hear the rumors and they see us together. It doesn't mean that I don't wanna be friends with you, no, but, that's how people think, right? Thing is that, it will be okay if there's nothing to worry. But I guess there are things to worry. Well, what I've been afraid is that, if there are others who would be hurt. It may or may not be me. But it's okay if it is me, because I've been accustomed to it. But what about others who do not know? What about them who are close to you and they hear this from others who know nothing about it? It's okay with me since I'm involved with no one. But what about you? You may think I don't know, but I guess I know something that you've been hiding as well, though I don't know the reason. I've been aware and I've been watching you, actually. So sorry, but this is for your sake. Yet, correct me if I'm mistaken. Has she already known? It'll be okay if she's okay. But still, this guilty feeling cannot go away from my thought. 

Another thing that has burdened me lately is that, what am I to you? Such a silly question, huh? But don't worry, I won't be offended by whatever your answer is because I guess I've known the answer. :D

Lastly, I just hope that this won't change things between us. I know you're such an open minded guy, but I just don't have the courage to tell you directly. So sorry for wasting your time.

Thank you :)

Sunday, January 27, 2013

Tuhan tahu yang terbaik :)

Kalau dihadapkan dengan pertanyaan, "Kamu bosen jadi jomblo?" jawaban gue pastinya adalah IYA pake banget. Hm, belakangan gue merasa kehidupan cinta gue bener-bener melas. Bukannya gue mengutamakan hal ini daripada yg lainnya, enggak. Tapi emang bener-bener melas sih. Sedih jadinya.

Hmm, okay lupakan. Jadi lebay nantinya.
Lanjut deh. Jadi, alasan gue bosen jadi jomblo adalah karena emang gue belum pernah jadi enggak jomblo! See? Melas kan gue?

Well, hal itu sebenernya nggak masalah bagi gue as long as gue punya banyak temen-temen di sekitar gue dan gue punya berbagai macam kesibukan. Tapi masalahnya, semakin hari semakin banyak temen-temen gue yang nikah, sementara gue masih jomblo aja gitu dari dulu. Dan juga, kadang-kadang gue merasa butuh bahu untuk bersandar ketika gue sedang benar-benar capek dengan kesibukan-kesibukan gue. Gue pengin punya seseorang yang mau dengerin segala keluh kesah gue dan juga gue pengin jadi tempat dia buat berbagi ke gue. Gue juga pengin disayang bukan hanya selalu bisa menyanyangi tanpa disayangi.

Aduh, kok malah galau ya. Hm, ga apalah.
Ngomong-ngomong tentang bosen jadi jomblo, gue jadi keinget salah satu kata-kata temen gue.
Jadi waktu itu kita lagi makan di suatu tempat makan, berempat. Entah kenapa tiba-tiba kita ngobrolin tentang cowok dan sebagainya yang akhirnya nyangkutlah tentang kejombloan gue ini. Soalnya diantara kita berempat, hanya guelah seorang yang jadi jomblo tulen. Tiba-tiba si teman gue itu nyeletuk gini, "Dia ini udah bosen jadi jomblo. Kalo dulu sih dia enjoy-enjoy aja jadi jomblo. Tapi kalo sekarang keliatan banget dia udah butuh seseorang." Nah, begitu denger kalimat-kalimat itu, gue langsung tersadar kalo ternyata selama ini gue merasa kesepian.

Dan belakangan ini, emang ada satu cowok yang gue incer. Hm, bukan incer juga kali ya bahasanya, tapi lucu sih. Hehe. Oke, intinya, gue jatuh hati dengan kepribadian si cowok ini dan entah kenapa secara tidak langsung dia juga membuat gue jadi lebih dekat dengan Tuhan. Bukan modus atau apa, tapi emang semenjak gue kenal dia, gue semakin cinta dengan Tuhan. Itulah istimewanya dia bagi gue.

Temen-temen gue pun ikutan seneng waktu mereka tahu gue bisa jadi kayak sekarang ini. Dan mereka pun juga berharap gue bakal punya hubungan lebih dengan si cowok ini. Tapi, seperti yang gue bilang di awal tadi, gue ini jomblo tulen, alias belum pernah pacaran sama sekali. Jadi gue sangatlah cupu dalam urusan percintaan, sampai-sampai pedekate pun kayak gimana gue nggak tau. Damn! Call me freak, will you?

Gue nggak berani dan nggak tau gimana caranya buat memulai hubungan gue dengan si cowok ini ke arah yang lebih dari sekedar teman. Okay, I call us as pray-mate. Kenapa? Karena tiap magrib gue selalu solat bareng dia, dan kadang kalo dzuhur atau ashar ketemu, kita pun solat bareng. Gara-gara ini juga, kita jadi digosipin yang aneh-aneh. Yah, biarpun gitu gue seneng juga sih digosipin sama dia. Haha.
Tapi balik lagi, gue masih belum bisa keluar dari hubungan yang cuma sebatas pray-mate ini tadi. Walaupun sebenernya kita sering ngobrol macem-macem sih, tapi gue selalu ragu untuk mencoba menawarkan ke arah yang lain.

Dan keraguan gue pun terjawab.
Ketika suatu siang, secara enggak langsung gue tahu kalo ternyata ada orang lain di hatinya. Well, mungkin saat itu, itu masih prasangka. Tapi firasat gue ga pernah bohongin gue. Juga, dari awal gue udah nemu beberapa tanda-tanda tentang si cewek ini yang nggak lain nggak bukan adalah salah seorang anak murid gue sewaktu gue kerja praktek di suatu sekolah.

Entah kenapa, baru setelah gue yakin hal itu bener, gue ngerasa sakit sesakit-sakitnya. Padahal, dari awal gue udah pasang shelter setebel mungkin buat hati gue biar enggak tersakiti lagi. Tapi ternyata pelindung-pelindung itu nggak kuat menahan perasaan gue yang ternyata nyata. Gue nggak tahu kalo ternyata rasa itu udah tumbuh sedemikian hebatnya, padahal gue nggak pernah mau itu terjadi sebelum gue tahu kalau gue bakal berakhir bahagia dengan cowok satu ini. Tapi kenapa semua jadi begini gue juga nggak tahu kenapa. Yang pasti gue pasrah sama Tuhan, karena apapun yang terjadi, gue yakin itu yang terbaik yang Tuhan berikan ke gue. Biarpun dia lelaki kedua setelah bokap gue yang bisa bikin gue nangis, tapi kalo emang Tuhan enggak ridho ya harus gimana lagi. Yang penting gue yakin bahwa suatu saat nanti, gue bakal ketemu dengan seseorang yang bener-bener bisa jadi sandaran dan imam yang baik buat gue.


Thursday, January 10, 2013

Just Don't Wanna Wait

Everything started by a search
A finding of an answer for a mending broken heart
Of such an idiot condition

But not anymore!
I don't want anything hurt this mending heart
and open up the scar
to let me die, 
die of an idiot searching that will never end

I might not be Turnblad who is chosen by a charming dandy Larkin
I might not also be any Disney's princess who is helpless around the man
But I don't have the courage to stay,
to hold on and wish that this waiting will end happily
Because the prayer has been enough to guide me
And God has settled the best way for me

Saturday, December 1, 2012

Will You Catch Me When I Fall?

"How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall.."

Kutipan di atas itu pasti banyak orang tahu itu dari lagunya Christina Perri - A Thousand Years. Thing is, that part of the song is now so me. How could it be?

Well, pada dasarnya aku lagi galau. Galau? Banyak sih yang bilang kalo aku itu dikit-dikit galau. Ya, habis mau gimana lagi, orang emang kenyataannya kek gitu. Bukannya apa-apa, tapi emang lagi bingung dan gak tau harus gimana dan emang perasaannya lagi gak enak. Yaudah, kata apalagi coba yg bisa mendeskripsikan hal itu selain kata 'galau'? :D

Yak, lanjut. Jadi ceritanya begini. 
Belum berapa lama ini aku kenal sama seseorang. Cowoklah pastinya, karena gini-gini juga aku masih normal. Nah, si cowok ini, sebut saja si J, dia sekampus sama aku. Bedanya, dia baru masuk kuliah tahun ini, sementara ini udah tahun terakhirku. Ya, you can conclude deh kalo dia brondong. Dan emang brondong. :D

Gimana bisa kenal? Gampang bangetlah, secara kita sefakultas ini. Dan juga, bukannya sombong tapi ini kenyataan, aku adalah tipikal orang sibuk di kampus, jadi ikut ini-itu gitu sampe banyak orang yang kenal (cuma sebatas sefakultas doang sih). Dan intinya, demi suatu acara yang lagi kugarap, aku butuh seorang cowok, dan kriterianya cukup susah, kerena butuhnya cowok putih berpenampilan menarik yang bisa nyanyi dan nari. Hm, bukannya mau rasis, mau pilih-pilih, atau apa, tapi emang itu yang dibutuhin karena dia bakal dipake buat jadi salah satu cast di drama. Yak, jadi emang aku ini salah satu pengurus drama tahunan di fakultasku. 

Singkat cerita, setelah pontang-panting ke sana - ke mari, dapetlah si J ini. Awal mulanya emang aku gak kenal. Tapi terus aku berusaha untuk kenal lewat salah satu acara yang diadakan juga oleh fakultas (makrab), yang kebetulan di kegiatan itu aku jadi panitianya dan dia jadi pesertanya. Intinya aku mulai dari situ aku jadi berani deketin dia. Memang awalnya tujuanku deketin dia itu murni karena drama, karena waktu pertama kali ngeliat dia, di bayanganku dia itu biasa aja. Kurang tinggi, biarpun gak pendek, jadi tetep aja belum memenuhi standar tipeku (ini emang akunya yang nggaya kok). Tapi, setelah suatu kejadian di acara makrab itu, aku jadi makin tertarik sama si bocah yang usianya tiga tahun lebih muda ini. Agak lame sih, tapi ya mau gimana lagi, kenyataannya gitu ok. Jadi aku ini terpesona bukan karena tampangnya tapi karena akhlaknya. He's such a good boy. Aku kagum sama dia karena dia bener-bener keren sebagai seorang Muslim. Enggak lebai, tapi kusyuk. Hm, gimana ya jelasinnya. Ya, intinya he's a good Muslim lah. :D

Lanjut! Setelah sekitar dua bulanan menjalin hubungan. Bukan hubungan asmara, tapi hanya  hubungan pekerjaan dan hubungan senior-junior, there's something different that I feel. Ya, bedanya adalah you can judge by yourself perbedaan apa yang kurasakan. Jangan salah, ini terjadi karena emang dianya juga beberapa kali mengindikasikan hal-hal yang mengarah ke sana. Ya, mungkin bisa jadi akunya yang keGRan, tapi namanya juga cewek, gampang banget keGRan kan? Dan pada dasarnya, dari awal aku selalu bilang pada diriku sendiri bahwa aku cuma tertarik doang sama dia dan aku nggak mau jatuh lagi ke lubang yang sama.

Belum berapa lama ini juga I felt how painful knowing your heart crushes into pieces. Jadi aku belum siap buat mengalami kejadian begituan lagi dalam waktu dekat. Jadi ya kuputuskan buat gak falling dulu. Tapi pertanyaannya di sini adalah apakah aku mampu? To be honest, I'm afraid of falling. No, I'm not afraid of falling, but I'm afraid of being broken hearted again.

Tuesday, February 14, 2012

Ketika kau pikir aku tak tahu


Aku tahu,
Sangat, sangat tahu
Tentang apa yang kau pikir aku tak tahu
Tentang apa yang kau pikir kau bisa hindarkan dariku

Aku maklum,
Cukup maklum dengan ini
Tentang apa yang kau pikir aku tak tahu
Tentang apa yang kau pikir kau bisa sembunyikan dariku

Aku tidak marah,
Tidak pernah dan tidak bisa marah
Tentang apa yang kau pikir aku tak tahu
Tentang apa yang kau pikir kau bisa buatku tak tahu

Tenang kawan,
Kau tak perlu sembunyikan dariku
Kau tak perlu hindarkan dariku
Tanpa kau beri tahu pun aku sudah tahu
Tentang apa yang tak bisa kau beri tahukan padaku
Salatiga, Feb 14, 2012 9:48

Tuesday, February 7, 2012

The boy I knew


The boy I knew
Was the boy I’m in love with
The boy I knew
Was the boy I adored much
The boy I knew
Never let his friend in pain
Always been a gentleman
The boy I knew
Was the boy who thought he knew too much
Was the boy who never gave up on things he did
Was the boy who would always be smiling on his blue day
And the boy I knew
Is the boy who is in love with my friend.
Salatiga, January 26, 2012 23:45

Saturday, February 4, 2012

Ada Sesuatu

Ada sesuatu.
Ada.
Pasti ada sesuatu.
Tapi apa?
Entah.


Ia hilang,
Ia terbang.
Bersama dengan apa yang ia ingin capai.


Ada sesuatu.
Ada.
Pasti ada sesuatu.


Mungkinkah ia akan kembali?
Aku tak tahu.

Mungkinkah ia akan di sini lagi?
Aku hanya bisa berharap.


Namun yang pasti,
Ada sesuatu untukku mengharapnya kembali.


Salatiga, February 5, 2012, 10:36

Missing


I really miss the night when we could share things
You, with your own days
Me, with my own works

Things are changing,
People are growing up
Will there be still me in your mind,
If I cross the line between me and you,
Then somehow managing my own future?

Show me the life I should living on
Just to justify the real world that supposed to be clarified
Even if you are not able to,
I’ll still go away and push my wings up

Don’t miss me,
You’re not accustom with it
Just remember me
As the way I should be
Salatiga, October 16, 2011 21:50

Monday, November 28, 2011

What is Us?

You walked
I walk
You went
I go
You left
I leave

Questions to be drawn,
Where'd you go?
Where'll I go?

Nothing could be answered
and nothing can be said


Is this only a drama queen?
or I just making it exaggeratedly?

When what I knew yesterday was only the past
And what I've learnt today was going to be the past

You tend to be care
You tend to be here
Somehow, your smiles are just superficial and artificial

With no harm,

I'd ask you once,

What is us? 

Monday, August 15, 2011

Kangen Ngeblog

Whoa..
Udah sekian lama saya tidak mengeblog. Akhirnya kangen juga..



Hmm..
Apa ya??
Saya selalu bingung mau menulis apa setiap kali sudah berada di depan komputer. Sebenarnya, di benak saya ini ada banyak sekali hal yang ingin saya ungkapkan, tapi karena saking banyaknya sampai-sampai bingun sendiri mau menulis apa. Kalau enggak, tiap kali punya ide selalu stuck di tengah jalan. Jadinya ya, bingung lagi mau nulis apa. Hedeh.
Nah, ini nih contohnya.. Sekarang ini saya sedang gak punya ide buat nulis lanjutan dari tulisan aneh bin wagu dan jelek ini. ==


Ya sudah, karena gak tau mau ngapa lagi, mending langsung saya post saja deh.
*mulai gak mutu*

Semoga setelah ini saya punya ide cemerlang mau menulis apa.
Doakan saya ya.. ;)

Sunday, July 3, 2011

Vampirish vs Witchy

"Twilight meets the Princess Diaries..."

Well, that's what written on the first sentence of the first Vampire Princess of St. Paul series synopsis. I actually had just found the novel a few days ago. To tell you the truth, I really love to read fantasy novels, especially young adult ones.

Hmm.. after reading that tag that telling this novel entitled 'Almost to Die for' is kind of a mixture between 'Twilight' and 'Princess Diaries', I of course was interested to read the book, let alone this is all about vampires.



Then, I read through the pages days and nights (since there are two books already). It tells about a sixteen-year-old girl named Ana Parker who was known as a witch but she found out that she couldn't do magic. Instead, she was actually a dhampyr (half blood vampire).

Uhm, maybe you've known that vampires and witches do not go along so well. Yeah, they also do in this book. Even, Tate Hallaway told that vampires only feed on witches' blood. And then here she came, Ana's Mom that actually was the Queen of Witch married her dad, who was the Vampire Prince. Dang!!
Amelia Parker did that in order to make the world in peace, but the thing was, it was failed.


Things became complicated for Ana. She didn't want to choose between those two worlds, so she decided not to be neither a witch nor a vampire, but both. Yes, she was the Vampire Princess of St. Paul as well as the Witch Queen's daughter.

And there were more complicated love story of Ana's. She had a boyfriend that was a vampire hunter apprentice, but on the other hand, she was betrothed (engaged) to a vampire knight. What the??

Okay, done with the story-line.

Well, it's time to talk about the way Hallaway wrote to these novels.
First, I like the main character, that is Anastasija Ramses Parker. She's an innocent. Though it's really cliche that Hallaway characterized her as a loner at her school that suddenly she was prominent because her lover was a vocalist of a well-known local band, still, I like the way Ana is described. Not only Ana, I also like Elias, the other main character. He was the vampire knight who was betrothed to Ana. Hmm, despite his too ancient action, I really love his gentleness. Well, gentleness is always able to melt girls' ice. Hahaha

Nevertheless, compared with two fantasy series I like most, Vampire Academy and Mortal Instruments, these novels, Almost to Die For and Almost Final Curtain, are not so good, I think. It is because the pace of Vampire Princess is too slow. And the confict isn't too complicated to be solved, plus the solving is too ordinary and too smooth. And I think, the sequel is better if it's still on the first book. So, make those two novels become one, then it'll make more enthusiasm for readers to read.

But still, this series is quite a good reference for you who loves fantasy and young adult novels..
:)

Saturday, June 18, 2011

Expect the Shocking Question

Life is full of some unexpectable things that happen. Somehow, we've got to be prepared with those kind of things, but anyway, some people like me, who lives as the way I want, just go with the flow, perhaps, never think of anything like that. So, when I suddenly coping a very beyond expectation thingy thing, what I can do is only nothing.

A few days ago, I was really shocked by a question asked to me. Well, not the question actually, but the person who asked the question made the question seemed to be very shocking. Duh, I dunno how to say this, but one that is important is, I was so speechless 'til nothing came to may mouth.

What if your crush asking who's the one you're crushed on?
Uhm,
Well,

Yeah, I was tongue-tied and somehow felt dizzy. That was the very first time I've ever been in that situation. Though the real situation wasn't so tense, because it was actually in the middle of playing truth or dare game, I really couldn't handle this one.
Well, then, I guess, I really should expect the shocking question..

*duh*

Friday, May 27, 2011

unidentified feeling

I remembered doing fine
Then recalling the past memories of mine

Judging every single day I've stepped
With me, with my life, with my mind, and with my heart

It's kinda boring, I guess
Without anyone else coming with me
But still, I treasuring those events

Those aren't poetic,
but what can I do?
I was left here alone
with no love to remain, even in silent

Thursday, May 19, 2011

DREAMS

I have dreams
You have dreams
Let’s share ours

We are young
We are free
Countless dreams will be done

Regreted time is only the past
Focus only on our hopes
The things we want them to be true
Salatiga, March 25, 2011 (just had a nice talk with peers)

Monday, February 28, 2011

Leaving inside the box

Kadang kala saya merasa hidup ngga sewajarnya. Kadang kala saya merasa hidup ini aneh. Kadang kala saya merasa hidup saya nggak banget. Kadang kala saya merasa ngapain saya ada di dunia? Kadang kala saya merasa hampa tanpa pernak-pernik yang mempercantik kehidupan saya. Kadang kala saya merasa tak guna hanya berdiam diri tanpa tindakan apapun.

Tapi, di sisi lain, saya nggak tahu harus ngapain buat memperindah kehidupan buruk rupa saya ini. Saya juga nggak ngerti, sebetulnya yang disebut hidup itu gimana? Apakah harus mengikuti semua aturan yang berlaku di sekitar saya? Apakah aturan-aturan itu bisa saya buat dan pilih sendiri? Atau, apakah saya dilarang untuk mengikuti satu aturan pun dan terpaksa berdiam diri mematung tanpa hasil apapun?

Kadang saya merasa hidup itu nggak adil. Tapi, bukan berarti saya menyalahkan Tuhan. I believe in my God. Masalahnya adalah, kenapa saya hidup tapi merasa nggak hidup?

Hidup, hidup, hidup!

Apa artinya hidup kalau nggak bisa ngapa-ngapain. Terkekang dengan dunia orang lain. Terbelenggu dengan impian-impian nggak wajar yang nyaris menghilangkan akal sehat yang sialnya nggak tahu cara menyalurkannya.
Publish Post

Hal-hal inilah yang saya rasakan akhir-akhir ini. Entah mengapa, tiba-tiba saya menginginkan pengakuan. Pengakuan tentang hidup saya yang nggak penting ini. Saya pengin ada diantara yang ada. Bukan seperti selama ini, menjadi bayang-bayang kehidupan orang lain. Ada, setia, tapi tak bisa berdiri sendiri.

Mungkin Anda pikir saya sedang melantur. Tapi, sebenarnya saya sedang mengutarakan apa yang tidak bisa saya utarakan secara lisan.
Maaf kalau tulisan saya ini sudah mengganggu Anda.

Tuesday, January 4, 2011

LOMO !!!!

Holy freaking cow! Sumpah mati saya pengin lomo!! 
Entah kenapa tiba-tiba saya ingin menikmati saat-saat senggang yang membosankan dengan bermain lomo. Hari ini, ketika balik dari kampus, saya seperti biasa (biarpun sendirian) jalan kaki beberapa ratus meter biar hemat dan sehat biarpun keringat tanpa henti bercucuran membasahi kening, ketiak, punggung, dan bagian-bagian tubuh lainnya.
Ketika tiba di sebuah spot yang amat sangat saya sukai, tepatnya di depan Bank Mandiri di mana saya bisa melihat pemandangan pegunungan nan indah membentang luas di balik gedung Kodim, keterkesimaan saya muncul kembali. Oke, emang setiap kali saya lihat spot itu, tiada henti jantung saya ini rasanya mau copot saking senengnya, dan bola mata saya udah pengin gelinding aja liatin pemandangan itu terus-menerus. Gimana nggak terkesima coba, orang pegunungan itu terlihat hijau subur dengan langit biru cerah beserta awan-awan putih terbentang luas. Subhanallah!
Nah, ketika saya lihat hal tersebut, yang selalu terlintas dalam benak saya adalah mengabadikan momen-momen indah tersebut. Ya, biarpun tiap hari udah bisa lihat secara langsung dengan mata kepala sendiri, rasanya kurang afdhol kalo nggak berbagi dengan sesama biar mendapat pahala. Hehehe. Jadi, siang tadi, keinginan saya untuk memiliki sebuah POP9 begitu kuat melebihi kekuatan gempa bumi Aceh dan Yogya.
Nah, oleh karena itu, saya mulai coba browse beberapa situs tentang lomografi dan cara memperoleh kamera tersebut. Sebelumnya saya kenal lomo dari salah seorang teman saya yang mempresentasikan lomografi sebagai salah satu bahan speech'nya di kelas speaking. 
Setelah selesai browsing, akhirnya saudara-saudara, saya memutuskan untuk MENABUNG!, suatu hal yang selalu gagal saya lakukan. Tapi, kali ini saya berjanji akan sukses mengumpulkan duit buat membeli POP9 atau Holga atau Fisheye atau apalah, yang penting LOMO!!
Doakan saya ya!