Sunday, January 27, 2013

Tuhan tahu yang terbaik :)

Kalau dihadapkan dengan pertanyaan, "Kamu bosen jadi jomblo?" jawaban gue pastinya adalah IYA pake banget. Hm, belakangan gue merasa kehidupan cinta gue bener-bener melas. Bukannya gue mengutamakan hal ini daripada yg lainnya, enggak. Tapi emang bener-bener melas sih. Sedih jadinya.

Hmm, okay lupakan. Jadi lebay nantinya.
Lanjut deh. Jadi, alasan gue bosen jadi jomblo adalah karena emang gue belum pernah jadi enggak jomblo! See? Melas kan gue?

Well, hal itu sebenernya nggak masalah bagi gue as long as gue punya banyak temen-temen di sekitar gue dan gue punya berbagai macam kesibukan. Tapi masalahnya, semakin hari semakin banyak temen-temen gue yang nikah, sementara gue masih jomblo aja gitu dari dulu. Dan juga, kadang-kadang gue merasa butuh bahu untuk bersandar ketika gue sedang benar-benar capek dengan kesibukan-kesibukan gue. Gue pengin punya seseorang yang mau dengerin segala keluh kesah gue dan juga gue pengin jadi tempat dia buat berbagi ke gue. Gue juga pengin disayang bukan hanya selalu bisa menyanyangi tanpa disayangi.

Aduh, kok malah galau ya. Hm, ga apalah.
Ngomong-ngomong tentang bosen jadi jomblo, gue jadi keinget salah satu kata-kata temen gue.
Jadi waktu itu kita lagi makan di suatu tempat makan, berempat. Entah kenapa tiba-tiba kita ngobrolin tentang cowok dan sebagainya yang akhirnya nyangkutlah tentang kejombloan gue ini. Soalnya diantara kita berempat, hanya guelah seorang yang jadi jomblo tulen. Tiba-tiba si teman gue itu nyeletuk gini, "Dia ini udah bosen jadi jomblo. Kalo dulu sih dia enjoy-enjoy aja jadi jomblo. Tapi kalo sekarang keliatan banget dia udah butuh seseorang." Nah, begitu denger kalimat-kalimat itu, gue langsung tersadar kalo ternyata selama ini gue merasa kesepian.

Dan belakangan ini, emang ada satu cowok yang gue incer. Hm, bukan incer juga kali ya bahasanya, tapi lucu sih. Hehe. Oke, intinya, gue jatuh hati dengan kepribadian si cowok ini dan entah kenapa secara tidak langsung dia juga membuat gue jadi lebih dekat dengan Tuhan. Bukan modus atau apa, tapi emang semenjak gue kenal dia, gue semakin cinta dengan Tuhan. Itulah istimewanya dia bagi gue.

Temen-temen gue pun ikutan seneng waktu mereka tahu gue bisa jadi kayak sekarang ini. Dan mereka pun juga berharap gue bakal punya hubungan lebih dengan si cowok ini. Tapi, seperti yang gue bilang di awal tadi, gue ini jomblo tulen, alias belum pernah pacaran sama sekali. Jadi gue sangatlah cupu dalam urusan percintaan, sampai-sampai pedekate pun kayak gimana gue nggak tau. Damn! Call me freak, will you?

Gue nggak berani dan nggak tau gimana caranya buat memulai hubungan gue dengan si cowok ini ke arah yang lebih dari sekedar teman. Okay, I call us as pray-mate. Kenapa? Karena tiap magrib gue selalu solat bareng dia, dan kadang kalo dzuhur atau ashar ketemu, kita pun solat bareng. Gara-gara ini juga, kita jadi digosipin yang aneh-aneh. Yah, biarpun gitu gue seneng juga sih digosipin sama dia. Haha.
Tapi balik lagi, gue masih belum bisa keluar dari hubungan yang cuma sebatas pray-mate ini tadi. Walaupun sebenernya kita sering ngobrol macem-macem sih, tapi gue selalu ragu untuk mencoba menawarkan ke arah yang lain.

Dan keraguan gue pun terjawab.
Ketika suatu siang, secara enggak langsung gue tahu kalo ternyata ada orang lain di hatinya. Well, mungkin saat itu, itu masih prasangka. Tapi firasat gue ga pernah bohongin gue. Juga, dari awal gue udah nemu beberapa tanda-tanda tentang si cewek ini yang nggak lain nggak bukan adalah salah seorang anak murid gue sewaktu gue kerja praktek di suatu sekolah.

Entah kenapa, baru setelah gue yakin hal itu bener, gue ngerasa sakit sesakit-sakitnya. Padahal, dari awal gue udah pasang shelter setebel mungkin buat hati gue biar enggak tersakiti lagi. Tapi ternyata pelindung-pelindung itu nggak kuat menahan perasaan gue yang ternyata nyata. Gue nggak tahu kalo ternyata rasa itu udah tumbuh sedemikian hebatnya, padahal gue nggak pernah mau itu terjadi sebelum gue tahu kalau gue bakal berakhir bahagia dengan cowok satu ini. Tapi kenapa semua jadi begini gue juga nggak tahu kenapa. Yang pasti gue pasrah sama Tuhan, karena apapun yang terjadi, gue yakin itu yang terbaik yang Tuhan berikan ke gue. Biarpun dia lelaki kedua setelah bokap gue yang bisa bikin gue nangis, tapi kalo emang Tuhan enggak ridho ya harus gimana lagi. Yang penting gue yakin bahwa suatu saat nanti, gue bakal ketemu dengan seseorang yang bener-bener bisa jadi sandaran dan imam yang baik buat gue.


Thursday, January 10, 2013

Just Don't Wanna Wait

Everything started by a search
A finding of an answer for a mending broken heart
Of such an idiot condition

But not anymore!
I don't want anything hurt this mending heart
and open up the scar
to let me die, 
die of an idiot searching that will never end

I might not be Turnblad who is chosen by a charming dandy Larkin
I might not also be any Disney's princess who is helpless around the man
But I don't have the courage to stay,
to hold on and wish that this waiting will end happily
Because the prayer has been enough to guide me
And God has settled the best way for me

Saturday, December 1, 2012

Will You Catch Me When I Fall?

"How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall.."

Kutipan di atas itu pasti banyak orang tahu itu dari lagunya Christina Perri - A Thousand Years. Thing is, that part of the song is now so me. How could it be?

Well, pada dasarnya aku lagi galau. Galau? Banyak sih yang bilang kalo aku itu dikit-dikit galau. Ya, habis mau gimana lagi, orang emang kenyataannya kek gitu. Bukannya apa-apa, tapi emang lagi bingung dan gak tau harus gimana dan emang perasaannya lagi gak enak. Yaudah, kata apalagi coba yg bisa mendeskripsikan hal itu selain kata 'galau'? :D

Yak, lanjut. Jadi ceritanya begini. 
Belum berapa lama ini aku kenal sama seseorang. Cowoklah pastinya, karena gini-gini juga aku masih normal. Nah, si cowok ini, sebut saja si J, dia sekampus sama aku. Bedanya, dia baru masuk kuliah tahun ini, sementara ini udah tahun terakhirku. Ya, you can conclude deh kalo dia brondong. Dan emang brondong. :D

Gimana bisa kenal? Gampang bangetlah, secara kita sefakultas ini. Dan juga, bukannya sombong tapi ini kenyataan, aku adalah tipikal orang sibuk di kampus, jadi ikut ini-itu gitu sampe banyak orang yang kenal (cuma sebatas sefakultas doang sih). Dan intinya, demi suatu acara yang lagi kugarap, aku butuh seorang cowok, dan kriterianya cukup susah, kerena butuhnya cowok putih berpenampilan menarik yang bisa nyanyi dan nari. Hm, bukannya mau rasis, mau pilih-pilih, atau apa, tapi emang itu yang dibutuhin karena dia bakal dipake buat jadi salah satu cast di drama. Yak, jadi emang aku ini salah satu pengurus drama tahunan di fakultasku. 

Singkat cerita, setelah pontang-panting ke sana - ke mari, dapetlah si J ini. Awal mulanya emang aku gak kenal. Tapi terus aku berusaha untuk kenal lewat salah satu acara yang diadakan juga oleh fakultas (makrab), yang kebetulan di kegiatan itu aku jadi panitianya dan dia jadi pesertanya. Intinya aku mulai dari situ aku jadi berani deketin dia. Memang awalnya tujuanku deketin dia itu murni karena drama, karena waktu pertama kali ngeliat dia, di bayanganku dia itu biasa aja. Kurang tinggi, biarpun gak pendek, jadi tetep aja belum memenuhi standar tipeku (ini emang akunya yang nggaya kok). Tapi, setelah suatu kejadian di acara makrab itu, aku jadi makin tertarik sama si bocah yang usianya tiga tahun lebih muda ini. Agak lame sih, tapi ya mau gimana lagi, kenyataannya gitu ok. Jadi aku ini terpesona bukan karena tampangnya tapi karena akhlaknya. He's such a good boy. Aku kagum sama dia karena dia bener-bener keren sebagai seorang Muslim. Enggak lebai, tapi kusyuk. Hm, gimana ya jelasinnya. Ya, intinya he's a good Muslim lah. :D

Lanjut! Setelah sekitar dua bulanan menjalin hubungan. Bukan hubungan asmara, tapi hanya  hubungan pekerjaan dan hubungan senior-junior, there's something different that I feel. Ya, bedanya adalah you can judge by yourself perbedaan apa yang kurasakan. Jangan salah, ini terjadi karena emang dianya juga beberapa kali mengindikasikan hal-hal yang mengarah ke sana. Ya, mungkin bisa jadi akunya yang keGRan, tapi namanya juga cewek, gampang banget keGRan kan? Dan pada dasarnya, dari awal aku selalu bilang pada diriku sendiri bahwa aku cuma tertarik doang sama dia dan aku nggak mau jatuh lagi ke lubang yang sama.

Belum berapa lama ini juga I felt how painful knowing your heart crushes into pieces. Jadi aku belum siap buat mengalami kejadian begituan lagi dalam waktu dekat. Jadi ya kuputuskan buat gak falling dulu. Tapi pertanyaannya di sini adalah apakah aku mampu? To be honest, I'm afraid of falling. No, I'm not afraid of falling, but I'm afraid of being broken hearted again.

Tuesday, February 14, 2012

Ketika kau pikir aku tak tahu


Aku tahu,
Sangat, sangat tahu
Tentang apa yang kau pikir aku tak tahu
Tentang apa yang kau pikir kau bisa hindarkan dariku

Aku maklum,
Cukup maklum dengan ini
Tentang apa yang kau pikir aku tak tahu
Tentang apa yang kau pikir kau bisa sembunyikan dariku

Aku tidak marah,
Tidak pernah dan tidak bisa marah
Tentang apa yang kau pikir aku tak tahu
Tentang apa yang kau pikir kau bisa buatku tak tahu

Tenang kawan,
Kau tak perlu sembunyikan dariku
Kau tak perlu hindarkan dariku
Tanpa kau beri tahu pun aku sudah tahu
Tentang apa yang tak bisa kau beri tahukan padaku
Salatiga, Feb 14, 2012 9:48

Tuesday, February 7, 2012

The boy I knew


The boy I knew
Was the boy I’m in love with
The boy I knew
Was the boy I adored much
The boy I knew
Never let his friend in pain
Always been a gentleman
The boy I knew
Was the boy who thought he knew too much
Was the boy who never gave up on things he did
Was the boy who would always be smiling on his blue day
And the boy I knew
Is the boy who is in love with my friend.
Salatiga, January 26, 2012 23:45

Saturday, February 4, 2012

Ada Sesuatu

Ada sesuatu.
Ada.
Pasti ada sesuatu.
Tapi apa?
Entah.


Ia hilang,
Ia terbang.
Bersama dengan apa yang ia ingin capai.


Ada sesuatu.
Ada.
Pasti ada sesuatu.


Mungkinkah ia akan kembali?
Aku tak tahu.

Mungkinkah ia akan di sini lagi?
Aku hanya bisa berharap.


Namun yang pasti,
Ada sesuatu untukku mengharapnya kembali.


Salatiga, February 5, 2012, 10:36

Missing


I really miss the night when we could share things
You, with your own days
Me, with my own works

Things are changing,
People are growing up
Will there be still me in your mind,
If I cross the line between me and you,
Then somehow managing my own future?

Show me the life I should living on
Just to justify the real world that supposed to be clarified
Even if you are not able to,
I’ll still go away and push my wings up

Don’t miss me,
You’re not accustom with it
Just remember me
As the way I should be
Salatiga, October 16, 2011 21:50